Nganjuk, Wartafavorit.com - Kabupaten Nganjuk juga kaya akan bangunan bersejarah, salah satunya adalah Candi Lor.
Candi Lor merupakan bangunan suci yang usianya sudah sangat tua.
Namun meski sudah mengalami kerusakan parah di berbagai sudutnya, Candi Lor seolah terus berusaha bertahan dan menolak runtuh.
Candi Lor berada di Desa Candirejo Kecamatan Loceret Kabupaten Nganjuk.
Berdasarkan prasasti Anjukladang yang pernah ditemukan di halaman Candi Lor, diketahui bahwa Candi Lor dibangun pada tahun 937 masehi.
Raja atau penguasa yang memerintahkan dibangunnya Candi Lor adalah Raja Mpu Sindok, raja Medang pertama yang bergelar Sri Maharaja Sri Isyana Wikramadharmatunggadewa.
Dalam prasati Anjuk Ladang tertulis bahwa pada tahun 937 masehi raja Mpu Sindok memerintahkan Rakai Hino Sahasra, Rakai Baliswara serta Rakai Kanuruhan untuk mendirikan sebuah bangunan suci yang bernama Sri Jayamerta sebagai pertanda penetapan kawasan Anjukladang sebagai kawasan Swatantra atau daerah bebas pajak atas jasa warga Anjukladang dalam peperangan.
Kisah peperangan antara Mpu Sindok dengan tentara Melayu dari Sriwijaya bermula dari adanya perseteruan yang terjadi di dalam keluarga wangsa Sanjaya.
Pada tahun 928, perseteruan tersebut mencapai puncaknya sehingga Dyah Wawa, Raja Mataram Kuno melakukan antisipasi dengan memerintahkan Rakai Hino Mpu Sindok untuk memindahkan pusat kerajaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur.
Baca Juga: Candi Boyolangu, Ternyata Di Sini Abu Jenazah Ratu Majapahit Yang Tercantik Itu Di Dharmakan
Apalagi, pusat kerajaan Mataram yang sekarang diperkirakan berada di wilayah Jogjakarta juga mengalami kerusakan parah akibat letusan gunung berapi disertai gempa bumi dan hujan material abu vulkanik.
Saat itu, Raja Wawa memberikan keleluasaan secara penuh kepada Mpu Sindok untuk mempertahankan diri dari kemungkinan adanya serangan Sriwijaya dengan memanfaatkan segala potensi yang ada di sekitarnya tanpa harus meminta persetujuan terlebih dahulu kepada raja Wawa.
Bermodalkan kepercayaan dari Dyah Wawa atau ayah mertuanya tersebut, Mpu Sindok kemudian menyiapkan strategi dengan memobilisasi masyarakat untuk menghadapi serangan Sriwijaya.